Senin, 24 Juni 2019

DUNGO DINUNGO part II


A.   Pendahuluan

Dalam era globalilasasi dan era milanial seperti sekarang ini, semua bisa didapatkan melalui jejaring sosial dan internet hanya dalam satu genggaman saja. Bagaimana tidak wong menginginkan sesuatu saja baik sandang pangan dan bahkan papan saja hanya dalam satu jentik jemari saja sudah dapat diperoses dan terealisasi dalam hitungan hari bahkan jam, dan detikpun sangat mudah, satu kedipan mata saja barang yang kita dan anda inginkan sudah muncul dapat dengan mudah diperlihatkan visualnya di situs internet.
Dunia telah memanjakan kita, begitulah kira-kira pandangan setiap orang pada era sekarang ini, di era 90-an hal ini tidak terbayangkan, beli cendol bisa dengan satu jemari langsung datang kerumah, dahulu pembelian barang hanya dapat dilakukan dengan datang ketempat penjualnya atau ke produsen barang tersebut, saat sekarang tidak perlu berongkos-ongkos ria untuk  menghabiskan waktu mendatangi penjual, cukup dalam genggaman tangan saja barang datang sesuai dengan keinginan kita, baik dalam negeri ataupun barang yang dari luar negeri, cepat sekali bukan?
Era milenial adalah era percepatan informasi yang bersifat mendunia, bahkan pada musim inilah segala sesuatu dapat diakses dengan mudah oleh setiap orang, tentang kebaikan bahkan kejelekan siapa saja dapat dengan mudah terpampang di media onlie, atau akun-akun media sosial masing-masing orang, sebab hampir setiap transaksi atau untuk mendapatkan akses atas informasi jika kita baru beli handphone harus menyertakan atau mendaftar terlebih dahulu akun kita ke Google dan disitulah mulai terbuka aurat atau identitas kita secara “paksa” yang diharuskan, bahkan jika kita mualai mendownload semua aplikasipun secara tidak sadar kita “ok” saja padahal aplikasi yang kita download di handphone kita akan mengakses semua data dan bahkan foto-fota kita yang berada di handphone, sadarkah kita? Bahwa aktifitas kita dari bangun tidur dan akan tidur kembali diintip oleh aplikasi di hp kita? Sadarkah kita setiap langkah-langkah kita dilihat secara langsung oleh aplikasi yang telah kita menyetujui untuk mendownloadnya?.
Mungkin bagi sebagian orang akan bangga, senang-senang saja dan bahkan ingin mendunia dengan firalnya tingkah laku kita, ingin di like dan di share ke seluruh dunia tapi ingatlah bahwasanya semua itu ada batasannya, bagaimana tidak sebuah aktifitas rutin bahkan yang bersifat pribadi dengan bangganya kita mengaskseskan via sosmed masing-masing orang, anak-naka kita, istri kita ketika mendaftarkan nomor hp harus menyertakan KTP dan KK, sangat mudah untuk terlacak bukan? Semua aktifitas keluarga kita dapat dengan mudah terbuka untuk umum dan apajadinya jika dalam periode tertentu, untuk keperluan demi tegaknya hukum misalkan, kita dapat dengan mudah “dipreteli” sampai habis tak tersisa kehidupan sehari-hari kita terpotret degan gampang, baik buruknya kita dan keluarga dapat dengan mudah diakses oleh orang, sebab setiap orang yang mengakses memeliki kepentingan yang berbeda-beda baik memiliki maksud positif atau negatif, tapi sesungguhnya seluruh aplikasi yang kita download via Play Store atau APPstore sesungguhnya dia lah yang sudah mengaduk-aduk segala aktifitas harian setiap pengguna Android dari waktu kewaktu bahkan sudah tahunan aplikasi-aplikasi playstore telah merekam aktifitas pribadi kita, sadarkah kita tentang hal ini? Sudah berapa tahunkah kita menggunakan android? Maka sebanyak tahun itulah aktifitas kita telah terrekord sedemikian rapih, tinggal on dan search saja oleh Mbah Googe penguasa server di alam maya dijagad ini, dapat dengan mudah disimpan didunia maya tanpa batas, semua aktifitas baik dan buruk kita  wah-wah...
Bisa dibayangkan bagaimana jika misalnya, misalnya suatu negara ingin menyerang Indonesia jam berapa hari apa, dapat dengan mudah dilihat rekord oleh Mbah Google, jam – jam berapa orang-orang Indonesia sedang berleha-leha, bersantai ria, bersenda gurau ria, ber malas-malasan, atau bahkan dapat dengan mudah terdeteksi sesungguhnya Indonesia itu sedang apa? Orang-orang Indonesia itu sedang sibuk apa? Masyarakat Indonesia itu sedang senang ngapaian? Kebiasaan-kebiasaan anak muda Indonesia itu ngapain aja? Jam berapa, dimana, apa yang dilakukan? Bagi google yang servernya tidak diIndonesia jika diminta oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat dengan mudah mendesain apa dan cara apa untuk menghancurkan Indonesia tercinta ini! Wow dahssyat sekali.
Bukankah kita pernah membaca atau mendengar tentang treding topik sebuah peristiwa? atau kadang ada tagar yang mendunia? bahkkan dengan tagar tersebut sesungguhnya dapat dilihat aktifitas terbanyak di Indonesia itu ngapaian, ha ha ha makan dawet ayu Banjarnegara, atau  makan Mendoan.... Misalkan ini baru tentang tagar, belum tentang IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS, dapat dengan mudah terpantau via sosial media di negara yang kita cintai ini, tangan-tangan jahil via android dibelahan dunia manapun dapat mengacaukan Indonesia,  di ujung jarinya. Hmmm, luar biasa dunia milenial ini positif dan negatifnya cukup mencengangkan.

B.        Merajut Ketaatan demi masa “depan”
Setelah melihat potret sederhana milenial tersebut di atas, lalu apa dan bagaimana yang harus kita lakukan sebagai orang yang memiliki agama ? atau minimal sudahkah kita melakukan perlindungan pada keluarga kita masing-masing, baiklah mari kita buka Kitab Suci kita, AL Quran di surat At-tahrim ayat 6 :

Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Api Neraka” (terj. Qs. At-Tahrim ayat 6).

Ayat di atas berisi perintah Allah Ta’ala kepada orang-orang beriman untuk melindungi diri dan keluarganya dari api neraka. Ini penting menjadi perhatian setiap Muslim yang beriman. Sebab ukuran kesuksesan dan kebahagiaan manusia di akhirat kelak adalah ketika dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. “Setiap jiwa akan merasakan kematian, maka bangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka dia telah beruntung”. (terj. Qs. Ali-Imran ayat 185).

Dengan apa dan bagaimana seorang menjaga diri dan keluarganya dari Api Neraka?

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, makna “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” adalah lakukanlah ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maksiat serta suruhlah mereka untuk berdzikir kepada Allah. Maka dengannya Allah selamatkan kalian dari api neraka”. Sementara Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa makna “peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah “didiklah mereka dan ajarkan ilmu kepada mereka (addibhum wa ‘allimhum)”. Sedangkan Muqatil dan Ad Dhahak berkata, makna peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, adalah, “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah, hendaklah engkau menegakkan perintah Allah teradap mereka, memerintahkan mereka dengan perintah Allah dan membantu mereka dalam urusan tersebut, dan jika engkau melihat kemaksiatan dari mereka maka hendaklah engkau menghardik mereka”.( Tafsir Ibnu Katsir: 4/391 ).

  1. Bekali Keluarga dengan Ilmu

Ilmu merupakan perkara yang sangat penting dan dipentingkan oleh Islam. Ia merupakan poros dan asas kebaikan. Dengan ilmu seseorang mengenali kebaikan dan dapat membedakannya dengan keburukan. Dengan ilmu pula seorang Muslim dapat mengetahui tugas dan kewajibannya kepada Allah. Dengan ilmu seorang mengetahui tujuan hidup dan keberadaanya di dunia yang fana ini. Dengan ilmu juga seseorang mengelola dan menjalani hidupnya di dunia ini dengan benar, sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Singkatnya, ilmu adalah bekal sekaligus panduan dalam mengarungi kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat. Bahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menemupuh jalan untuk mencari ilmu, maka dengan itu Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (terj. HR. Muslim). Dimudahkan masuk surga mengandung makna dijauhkan dari neraka.

Dalam Islam mencari ilmu hukumnya wajib, sebagaimana diterangkan oleh banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantaranya sebuah hadits yang diriwatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Mencari ilmu hukumnya fardhu (wajib) bagi setiap Muslim” (terj. HR.

Oleh karena itu dalam ajaran Islam kewajiban seorang kepala keluarga dalam rangkan membimbing keluarganya menggapai ridha Allah, selamat dari neraka adalah dengan mengajarkan ilmu kepada mereka. Paling tidak seorang Muslim belajar Ilmu fardhu ‘ain dan mengajarkannya kepada orang yang menjadi tanggung jawabnya, yakni anak dan istrinya.

  1. Didik Mereka Menjadi Pribadi Yang Beradab

Seorang Ilmuwan Melayu Syed Naquib al-Attas mengatakan, Sebab utama berbagai masalah dunia Islam saat ini adalah problem ilmu dan ketiadaan adab (the loss of adab). Oleh karena itu beliau menurut beliau, solusi mendasar bagi persoalan ummat Islam saat ini adalah pendidikan berbasis adab. Beliau menyebutnya dengan istilah ta’dib.

Ini penting mejadi perhatian, mengingat pendidikan formal saat ini telah kehilangan ruh adab. Berbagai kasus kejahatan yang melibatkan anak-anak muda dan pelajar merupakan salah bukti, lembaga pendidikan formal hampir gagal menanmkan adab kepada para peserta didik. Oleh karena itu dibutuhkan pendidikan berbasis adab yang bermula dari pendidikan keluarga. Karena memang pada asalnya tanggung jawab utama dan pertama pendidikan (ta’lim dan ta’dib) terhadap anak adalah pada orang tua.

Tentu saja yang dimaksud dengan adab di sini bukan sekadar sopan santun dan tata krama terhadap sesam manusia. Tetapi adab yang mencakup adab kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama manusia seperti adab kepada orang tua, guru, kawan, dan sebagainya. Karena pada hakekatnya makna adab dalam bahasa Islam adalah memberikan kepada yang berhak haknya. Memuliakan yang harus dimuliakan dan tidak memuliakan yang tidak pantas dimuliakan.

  1. Ajak Keluarga Melakukan Ketaatan

Upaya selanjutnya dalam rangka melindungi diri dan keluarga dari apai neraka adalah senantiasa melakukan ketaan kepada Allah dan meninggalkan maksiat dan menyuruh mereka untuk melakukan hal itu. Karena makna, “peliharalah dirimu dari api neraka” adalah “lakukan ketaatan kepada Allah dan tinggalkan maskiat kepada-Nya”, kata Ibnu Abbas dan “Engkau memerintahkan mereka untuk mentaati Allah dan mencegah mereka dari bermaksiat kepada Allah”, kata Muqatil dan ad-Dhahak.

Ketaatan pertama yang harus menjadi perhatian seorang Muslim dan mendidik keluarganya adalah tauhid dan shalat. Sebab tauhid merupakan kebaikan yang paling baik. Karena kebaikan dan ibadah yang dikerjakan seorang hamba harus tegak di atas tauhid. Tauhid merupakan kunci syuga dan jalan keselamatan dari neraka. Bahkan tauhid merupakan tujuan hidup manusia di dunia ini. Oleh karena itu seluruh nabi dan Rasul diutus oleh Allah untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah Ta’ala.

Sedangkan shalat merupakan tiang agama dan rukun Islam yang kedua. Ia juga merupakan pembeda antara Muslim dan Kafir atau Musyrik. Imam Ibn Katsir rahimahullah ketika menafsirkan, “Peliharah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, mengatakan, Termasuk bagian dari makna ayat ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan anak kalian melakukan shalat bila telah berusia, dan bila telah berusia sepuluh tahun maka pukullah jika enggan melakukan shalat”. (Terj. HR. Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidziy).

Ayat dan hadits ini menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anaknya mendirikan shalat. Dalam ayat lain Allah juga menegaskan, “Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya”. (terj. Qs. Thaha:132). Para Nabi dan Rasul Allah (termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan orang-orang shaleh terdahulu telah mengamalkan ayat ini dengan bersungguh-sungguh dalam menyuruh keluarga mereka melakukan shalat (Lih. Qs. Maryam: 55, Luqman:17).

  1. Larang Keluargamu Melakukan Maksiat

Selain ilmu, adab, dan perintah melakukan ketaatan, upaya melindungi dan membentengi diri dari api neraka hendaknya dilakukan pula dengan melarang mereka dari berbuat maksiat. Hal ini juga meruapkan bagian dari makna “qu anfusakum wa ahlikum nara”, sebagaimana dikatakan oleh Muqatil dan Ad-Dhahak.

Maksiat pertama yang harus dihindarkan dari keluarga kita adalah syirik. Sebab syirik merupakan dosa yang akan menyebabkan pelakukan kekal dalam neraka. Orang yang melakukan kesyirikan dan meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dari dosa syirik, maka dosanya tidak diampuni (Qs.4:48) dan ia kekal dalam neraka, sebagaimana firman Allah, “Sesungguhnya orang yang berbua syirik maka Allah haramkan bagina surga dan tempatnya ialah neraka. Tidak ada bagi orang-oranag dzalim itu penolong sedikitpun”. (terj. Qs. Al-Maidah:72).

Saking besarnya bahaya dosa sirik ini Nabi Ibrahim ‘alaihis sallam memohon secara khusus kepada Allah agar diri dan anak keturunannya dihindarkan dari kesyirikan. “Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata, wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkan aku serta anak keturunanku dari menyembah berhala”. (terj. Qs. Ibrahim:35).

Selanjutnya maksiat yang harus dijauhkan oleh seorang Muslim dari keluarganya adalah dosa-dosa besar seperti riba, zina, khamr, judi, sihir, dan sebagainya. Lalu kemudian dosa-dosa kecil dan perilaku tercela lainnya. Dan hendaknya seorang Muslim tidak meremehkan perbuatan dosa, sekecil apapun dosa tersebut. Karena setiap dosa mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus dan disertai sikap meremehkannya akan menjelma akan menjadi besar siksanya di sisi Allah.

  1. Bimbing Keluarga Untuk Selalu Ingat Kepada Allah dan Berdzikir Kepada-Nya

Diantara makna ayat, “jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, sebagaimana diatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan melakukan ketaatan kepada Allah, meninggalkan maksiat, dan menyuruh mereka untuk berdzikir kepada Allah. Beliau menyebutkan dzikir, padahal dzikir merupakan bagian dari ketaatan terhadap perintah Allah (misal, Qs. Al-Baqarah:152, Qs. Al-Ahzab:41, Qs. Al-A’raf: 205, dsb). Hal ini untuk menekankan pentingnya ibadah dzikir dalam kehidupan seorang hamba. Sebab dzikir merupakan sebab memperoleh ampunan (maghfirah) dan pahala yang besar (Qs. 33:35), sumber dan kunci ketenangan hati (Qs. 13:28)

Dalam banyak haditsnya Rassulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan fadhilah (keutamaan) dan kedudukan dzikir. Diantaranya sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Tirmidziy dan Ibnu Majah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa dzikir merupakan sebaik-baik amalan, paling suci di sisi Allah, mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, dan lebih baik dari menginfakkan emas, dan perak, dan lebih baik dari bertemu dan berperang melawan musuh. Dalam hadits lain Nabi mempermisalkan orang berdzikir seperti orang hidup dan orang yang tidak berdzikir seperti orang mati.

Selain itu ibadah dzikir juga memiliki banyak manfaat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan sampai enam puluh manfat dzikir dalam kaitabnya al-wabilus Shayyib. Oleh karena itu sepantasnya seorang Muslim khususnya kepala keluarga menganjurkan keluaganya; anak dan istrinya untuk memperbanyak dzikir kepada Allah. Hal ini termasuk salah satu lamgkah seorang menghindarkan keluaranya dari neraka.

Wallahu 'alam


Senin, 25 Maret 2019

Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti ke-2

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi, Teluk Penyu, Cilacap


"KEBERHASILAN" itu muncul ketika sabar mulai "menjalar", begitu kira-kira penafsiran penulis terhadap judul di atas. 
       Perlu diketahui bersama bahwa salah satu prinsip hidup orang jawa itu adalah "Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti", yang dipopulerkan oleh Kyai Ranggawartsito III atau Ki Ranggawarsito III beliau adalah keturunan bangsawan Keraton Surakarta dari keturunan ayah beliau adalah keturunan ke-10 dari Sultan Hadiwijoyo pendiri kerajaan Pajang, dari Ibu beliau adalah keturunan ke-13 dari Sultan Trengono Raja Demak ke-3, Ranggawarsito itu dalah sebuah gelar, sementara yang mempopulerkan salah satu prinsip hidup orang jawa tersebut adalah Ranggawarsito III yang nama aslinya adalah Bagus Burhan sewaktu kecil, atau setelah dewasa menjadai nama Raden Ngabehi Ranggawarsito ayahnya bernama RM. Ng. Panjangswara/Ranggawarsito II Ibunya bernama Nyai Ajeng Ranggawarsito, beliau lahir 14 Maret 1802 dan wafat 1873.
     Setelah usia dua belas tahun, kakeknya mengirimkan ke Pesantren Gerbang Tinatar, Tegalsari, Ponorogo Jawa Timur sebagai pengasuh pesantren tersebut adalah Kyai Kasan(Hasan) Besari (Basri) seorang ulama yang dikenal keluasan ilmunya , Kasan Besari adalah menantu Paku Buwono IV dan pernah menuntut ilmu ke Satronagoro yakni kakek Bagus Burhan.
        Tentu saja sekaliber Ranggawarsito III sampai bisa menciptakan salah satu prinsip hidup orang jawa yang sangat terkenal ini bukan merupakan hasil perenungan tetapi hasil laku lampah ngaji sebagai santri di Pesantren.
        Cukup panjang ceritanya jika kita kupas tentang beliau ini tapi cukuplah penjelasan di atas untuk membukakan pemikiran kita tentang siapa sesungguhnya Ranggawarsito III ini.
          Dalam rangka untuk memudahkan pemahaman kita tentang  prinsip hidup orang jawa Suro Diro Jayadiningrat Lebur Dening Pangastuti dapat penulis ungkapakna sebabagai berikut :
Suro artinya adalah keberanian. Setiap manusia pasti memiliki sifat ini. Jika dibiarkan, maka sifat ini dapat saja mengarah kepada ketidakbenaran.
Diro artinya adalah kekuatan. Setiap manusia punya potensi kekuatan luar biasa jika diberdayakan, baik lahir maupun batin.
Joyo artinya adalah kejayaan atau jaya. Jika seseorang mengalami kejayaan, bisa saja menjadi angkuh dan sombong hingga sewenang-wenang.
Ningrat artinya adalah darah biru atau bisa juga bermakna banyak harta. Menggambarkan seorang pejabat yang memiliki wewenang.
Lebur artinya adalah hancur atau musnah. Dapat pula diartikan sebagai menyerah, tunduk, sirna atau hilang.
Dening artinya adalah dengan. Bahasa ini diserap dari bahasa Jawa modern sebagai kata penghubung.
Pangastuti artinya adalah kebaikan, kebajikan, kebenaran atau kasih sayang. Dewasa ini jarang sekali orang yang berpijak pada pangastuti, sehingga slogan ini mengingatkan kembali untuk selalu berpedoman pada pangastuti, semakna dengan dharma atau kebaikan.
Nah, jika dirangkai menjadi kalimat, kata per kata itu memiliki makna yang dirangkai menjadi sebagai berikut:
“Kekuatan, kejayaan dan kewenangan dapat hancur dengan kebajikan.”
Maksudnya, betapapun Anda ditopang dengan kekuatan, kejayaan dan kewenangan (seorang ningrat), jika digunakan untuk kejahatan, maka akan musnah dengan kebaikan, kebenaran dan kasih sayang.
 Maka sebuah keberhasilan bukan didapatkan dengan mudah atau ibarat membalikan telapak tangan saja ternyata perlu perjuangan bahkan juga diperlukan prihatin ( bahasa Indonesinya apa ya), bertahun-tahun, kerja keras bertahun tahun, banting tulang bertahun tahun, bertahun-tahun keliling Indonesia, naik gunung turun gurnung susah sedih ditanggung sendiri dan keluarga selama bertahun tahun. Bahkan untuk merdeka dari penjajahan Indonesia butuh waktu 350 tahun !!! waktu yang cukup panjang bukan? 
          Artinya periodesasi terhadap sebuah keberhasilan setiap orang tidaklah sama kurun waktunya, sehingga tidak bisa membandingkan dengan orang lain atau tidak bisa disamakan dengan keberhasilan orang lain, disinilah letak perbedaanya.
          Nilai yang akan diberikan oleh Allah SWT adalah bukan pada polah tingkah kita untuk menggapai sebuah keberhasilan atau kesuksesan, akan tetapi terletak pada ketakwaan pada sebuah keberhasilan, kenapa? Karena jika berbicara masalah keberhasilan atau kesuksesan sesungguhnya adalah nisbi, sementara paling lama jika seorang abdi negara hanya sampai umur 58 tahun kemudian pensiun, kenapa ketakwaan yang perlu dibina? Karena jika ketaqwaan pada sang Maha Kuasa dipupuk dan selalu ditingkatkan pemahamannya pada setiap manusia maka menjadi faham bahwa sebuah keberhasilan jabatan akan dimintakan pertanggungjawaban, bagaimana memperoleh jabatan tersebut, dengan cara apa memperoleh keberhasilan menjadi pejabat negara? Dan seterusnya dan seterusnya, bahkan Allah SWT berfirman: 

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS. Qiyamah: 36)

Oleh karena itu hendaknya kita berhati-hati dalam berucap dan berbuat, karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Ta’ala di akhirat.
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)

Dan balasan yang disediakan oleh Allah Ta’ala di akhirat kelak sesuai dengan amalnya di dunia. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya, (disediakan) pembalasan yang baik. Dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan (ditambah) sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu. Orang-orang itu disediakan baginya hisab yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS. Ar-Ra’du:18)

             Maka dari itu jika pada hari ini tidak berhasil, lakukan berkeras usahanya untuk esok, jika tidak berhasil esok, maka lusa berkeras usahanya, jika lusa tidak berhasil juga berkeras lagi untuk masa waktu yang akan datang, tidak ada kata berhenti untuk sebuah keberhasilan tetapi harus bertaqwa kepada Allah SWT yang Maha Kuasa.
            Sehingga KEBERHASILAN  itu muncul ketika sabar mulai menjalar, adalah sebuah konsep hidup berlandaskan ketaqwaan Illahiyah, bagaimana tidak? lah wong untuk sedetik kedepan saja kita sebagai manusia tidak tau apa yang akan terjadi? 
Marilah kita lihat, anjurannya untuk mencapai sebuah keberhasilan yang sudah ada prinsipnya pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 153 yaitu : 

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِÙŠْÙ†َ آمَÙ†ُوا اسْتَعِÙŠْÙ†ُÙˆْا بِالصَّبْرِ Ùˆَ الصَّلاَØ©ِ Ø¥ِÙ†َّ اللهَ Ù…َعَ الصَّابِرِÙŠْÙ†
Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Albaqarah ayat 153).  

         Bertahun-tahun Nabi Ayub menderita penyakit , sehingga tersisih dari anak isteri; akhirnya penyakitnya disembuhkan Allah SWT dan setelah pulang ke rumah didapatinya anak yang 10 telah menjadi 20, karena semua sudah kawin dan sudah beranak pula. Nabi  Ibrahim dapat menyem­purnakan kalimat-kalimat ujian Allah SWT karena sabar. Demikianlah Nabi Musa de­ngan Bani-Israil. Nabi Ismail membangun angkatan Arab yang baru. Nabi Isa  dengan Hawariyin semuanya dengan sabar.
       Ada Nabi yang nyaris kena hukuman karena tidak sabar; yaitu Nabi Yunus. Ditinggalkannya kaumnya karena seruannya tidak diperdulikan. Maka Allah SWT melatih jiwa beliau ditakdirkan masuk perut ikan beberapa hari lamanya, setelah keluar dari sana dia membangun diri lagi dengan kesabaran.
      Lebih 25 tahun Nabi Ya'kub sabar menunggu pulang anaknya yang hilang, sampai berputih mata; akhirnya anaknya Nabi Yusuf kembali juga. Tujuh tahun Nabi Yusuf menderita penjara karena fitnah; dengan sabarnya dia jalani nasibnya; akhirnya dia dipanggil  menjadi Menteri Besar.
        Maka sabar dan shalat adalah  kekuatan untuk tetap berusaha dalam mancapai keberhasilan, sehingga konsep prinsip orang jawa Suro Diro Joyodiningrat Lebur Dening Pangastuti, termanifestasikan dengan "KEBERHASILAN" akan muncul ketika sabar mulai "menjalar", diimbangi dengan ketaqwaan padaNYa silahkan dicoba.

Kamis, 13 Desember 2018

GUGUR GUNUNG TANDANG GAWE SAYUK RUKUN RO KANCANE


  
 Judulnya sangat njawani, karena memang penulis adalah orang jawa itupun jawa keturunan Werkudara (kalau memang Werkudara itu ada), kok? lha iya Werkudara atau Bima Sena dalam cerita perwayangan itu tidak pernah berbicara menggunakan bahasa krama inggil alias pakai bahasa ngapak, sebab ora ngapak ya ora kepenak.  Itu kira-kira semboyan anak muda Banyumasan yang banyak di tulis di kaos-kaos oblong oleh oleh dari sana. 
Begitu juga dengan istilah Aja Gegoh, aja reang sing rukun sing guyub (jangan ribut jangan berisik, bersatulah bekerjasamalah), pemaknaannya hampir sama dengan "Gugur Gunung Tandang Gawe, Sayuk Rukun ra Kancane" (bekerja bersama sama/kerja bakti, bersatu padu rukun dengan teman/tetangga ) semuanya mengajak pada satu tujuan yaitu guyub rukun sesama teman atau tetangga.
Maka dari itu konsep guyub dan rukun disandingkan dengan gugur gunung tandang gawe adalah sebuah keniscayaan harus tetap dilaksanakan secara bersama sama secara kekeluargaan , artinya tidak bisa dijalankan sendirian Gugur Gunung tanpa mengindahkan sebuah kebersamaan dalam sebuah keluarga sekecil RT sekalipun.       
          Ada beberapa formula bertetangga yang kemungkinan besar sudah kita fahami bersama yaitu :
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada tetanggga, dalam firman-Nya:

Ùˆَاعْبُدُوا اللَّÙ‡َ Ùˆَلا تُØ´ْرِÙƒُوا بِÙ‡ِ Ø´َÙŠْئاً ÙˆَبِالْÙˆَالِدَÙŠْÙ†ِ Ø¥ِØ­ْسَاناً ÙˆَبِذِÙŠ الْÙ‚ُرْبَÙ‰ ÙˆَالْÙŠَتَامَÙ‰ ÙˆَالْÙ…َسَاكِينِ Ùˆَالْجَارِ ذِÙŠ الْÙ‚ُرْبَÙ‰ Ùˆَالْجَارِ الْجُÙ†ُبِ Ùˆَالصَّاحِبِ بِالْجَÙ†ْبِ [النساء:36[
“ Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun (jangan berbuat syirik). Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisa`: 36)
Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" Ù…َا زَالَ جِبْرِيلُ ÙŠُوصِينِÙ‰ بِالْجَارِ Ø­َتَّÙ‰ ظَÙ†َÙ†ْتُ Ø£َÙ†َّÙ‡ُ ÙŠُÙˆَرِّØ«ُÙ‡ُ "
” Jibril 'alaihissalam senantiasa (terus-menerus) berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) dengan tetangga,sehingga aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.” (HR. Al-Bukhari no. 6014 dan 6015, Muslim no. 6852 dan 6854, dan imam-imam ahli hadits lainnya).
          Tentu saja bertetangga itu bukan hanya dominasi kaum laki laki saja, ada wanita disisi lain dan anak-anak sebagai pelengkap bertetangga. Jika kemudian bahwa bertetangga adalah dominasi kaum laki-laki saja maka para wanita akan dikemanakan? 
          Maka dari itu Gugur gunung tandang gawe sayuk rukun ra kancane, adalah cerminan bertetangga dan bermasyarakat secara menyeluruh tidak ada diskriminasi secara sistemik yang akan berakibat pada " Gegoh dan Reang" tak ada ujungnya.
Itulah kemudian dalam wilayah kepemimpinan yang digambarkan pada setiap shalat berjamaah yang dipimpin oleh seorang Imam, maka koreksi atas kesalahan "gerakan" shalat pemimpin dalam hal ini adalah Imam boleh dan wajib dilakukan oleh siapapun baik jamaah laki-laki dengan mengucapkan Subhanallah atau jamaah wanita dengan menepukkan tangannya, tujuannya apa? yaitu untuk kebaikan sang pemimpin itu sendiri dan kebaikan makmum atau masyarakat di masa-masa yang akan datang, indah bukan.
Pun demikian sebuah musyawarah dan mufakat adalah jalan terbaik sebelum melakukan sebuah gerakan/kegiatan yang berakibat pada perubahan lingkungan kepemimpinan, sehingga mengakui sebuah kesalahan dihadapan manusia tidak akan mengurangi kewibawaan bahkan akan lebih mulia daripada malu dihadapan Allah SWT.
 Akhirnya Gugur gunung tandang gawe sayuk rukun ra kancane, menjadi pari purna dalam kebersamaan tanpa ada rasa paling digdaya sehingga akan terhindar dari  gegoh dan reang akhirnya menjadi  rukun dan guyub.

    Refleksi akhir tahun anggaran
    Bagaimana membumikan Gugur Gunung Tandanggawe Sayuk Rukun Ra Kancane, Aja Gegoh Aja Reang Sing Guyup Sing Rukun  dalam irama para Aparatur Sipil Negara (ASN) atau lebih menterengya para Birokrat  yang tentunya diwilayah tersebut terdapat sebuah struktur organisasi yang sangat kuat garis komandonya, ada Bidang-Bidang, Seksi-Seksi dan wilayah struktur terkecil vertikal disetiap daerah wilayah di Indonesia, yang tidak kalah pentingnya  pada struktur terkecil adalah para staf, apakah mungkin bisa dan dapat diaplikasikan untuk kelancaran penyelesian tujuan sebuah pekerjaan pada masa awal dan  akhir tahun anggaran?
    Penulis tidak akan mengulas ilmu-ilmu manajemen yang sudah diluar kepala para Birokrat, Plan, Do, Check, Action,  Evaluation dan tidak akan mengupas tentang Teori Managemen faunndhing father Peter Drucker, POAC/Planning, Organizing, Actuating dan Controling, atau Bapak manajemen Indonesia Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kita kenal dengan nama Ki Hajar Dewantara dengan filosofis manajemenya, beliau mengejawentahkan dalam rumus manajemen Jawa Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.
    Maka Gunung dalam benak kita adalah sesuatu yang besar menjulang tinggi dengan hutan lebat rimbun hijau yang eksotik menarik untuk dilakukan eksploitasi secara masal oleh siapapun juga. Bahkan ada usaha-usaha tangan jahil untuk memonopolinya untuk kepentingan pribadi atau golongan saja.
   APBN kita ibarat seperti gunung eksotik untuk dieksploitasi secara masal dari awal tahun sampai akhir tahun anggaran secara sistemik dan berkesinambungan, namun anehnya hal ini terjadi pada setiap akhir tahun anggaran berdatangan ke KPPN berduyun-duyun mengajukan tagihan kepada negara, berulang setiap tahun bahkan terfasilitasi dengan munculnya ketetapan langkah-langkah akhir tahun anggaran untuk percepatan ekspoitasi terebut, tidak berlebihan jika APBN ibarat gunung yang akan dipangkas habis hanya dua bulan terakhir pada setiap tahunnya, terus mereka 11 bulan atau 10 bulan yang lalu apa yang dikerjakan ? Nungguin Gunung runtuh sendiri? Atau biarlah gunung itu tinggi toh akan habis juga pada akhir tahun nanti.  Arti sebenarnya  mungkin yang bersangkutan tidak pernah merasa  menjadi gunung       sehingga cara eksploitasinyapun sporadis tidak simultan dan terkesan asal-asalan, yang penting cair yang penting gunung rata. Wow...         
  Sangat beda memang ketika Gunung tersebut dalam pandangan Kuasa BUN penguasa gunung, tentu saja kita bukan ingin kembali pada Per-66/PB/2005 loh, terkadang rindu juga sisi positif Per-66/PB/2005 untuk menjembatani putusnya ekspoitasi asal-asalan pemilik gunung dengan penguasa gunung yang memang sudah dipisahkan oleh Undang-Undang Nomor 1 tahun 2004, pemisahan administrasi beheer berada pada Kementerian Negara/Lembaga dan comtable beheer berada pada Kementerian Keuangan dengan dilahirkannya PMK 190/PMK.05/2012 dalam porses pelaksanaan eksploitasi Gunung tersebut.            Oleh sebab itu Gugur Gunung Tandang Gawe, jika Gunung dimaknai APBN maka proses pelaksanaan eksploitasi/gugur gunung harus bersama sama/tandang gawe tentu saja Sayuk rukun ra Kancane bersama-bersama teman satu kantor meratakan gunung dengan pemahaman yang sama satu nafas satu irama, tentunya agar alunan meratakan gunung menjadi indah didengar oleh pemilik gunung di seantero Nusantara dan akhirnya tidak merepotkan penguasa gunung di seluruh nusantara, maka kita harus memahami fungsi kita sebagi BUN tidak boleh masuk dalam wilayah adminstratif beheer, agar dalam meratakan gunung ini akan indah pada akhirnya, tidak timbul masalah hukum di kemudian hari.
Administratif beheer inilah sesunggunya kewenangan yang ada pada Kementerin Negara/Lembaga untuk melakukan perikatan, tindakan-tindakan lainnya yang mengakibatkan  terjadinya penerimaan dan pengeluaran negara, melakukan pengujian, dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada Kementerian/Lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut, serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran.
Dilain pihak KPPN sebagai Kuasa BUN bukanlah sekedar kasir yang hanya berwenang melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara tanpa berhak menilai kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut, tentunya dalam konteks sebagai wakil Menteri Keuangan KPPN sebagai kasir, pengawas keuangan dan manajer keuangan. Keren dong...
Fungsi pengawasan keuangan di sini terbatas pada aspek rechmatigheid dan wetmatigheid hanya dilakukan pada saat terjadinya penerimaan atau pengeluaran, sehingga berbeda dangan fungsi per-audit yang dilakukan oleh kementerian teknis atau post audit yang dilakukan oleh aparat pengawas fungsional.
Dengan demikian, dapat dijalankan salah satu prinsip pengendalian intern yang sangat penting dalam proses pelaksanaan anggaran, yaitu pemisahan tegas pemegang kewenangan administratif dan pemegang fungsi pembayaran (comtable) tentunya harus dijalankan secara konsisten pada insan KPPN sebagai Kuasa BUN sehingga tidak menimbulkan “deformasi” yang berakibat kurang efektif untuk mencegah dan/atau menimbulkan penyimpangan dalam pelaksnanan penerimaan dan pengeluaran negara.
Pada akhirnya Gugur Gunung Tandang Gawe Sayuk Rukun Ra Kancane, aja gegoh aja reang sing rukun sing guyub adalah sebuah definisi baru menurur penulis dalam pemaknaan pelaksanaan APBN versi terminologi jawa hal ini tentunya Gunung/APBN harus rata terserap sempurna, dikerjakan bersama-sama rukun dengan semua komponen staff, lower manager, midle manajer dan top manajer aja gegoh jangan berantem, aja reang jangan gaduh degan sesama rukun sajalah bersama sama, maka gunung pun akan teratakan dengan mudah sesuai kaidah Perberndaharaan. Bravo Ditjen Perbendaharaan.