Rabu, 04 Januari 2012

Selesai Sudah

Tutup sudah, semua angan yang berbalut dengan rindu untuk selalu bertemu dengan rasa dan asa yang tadinya bisa membara. Bukan karena aku tidak mampu untuk melanjutkan misi ini, bukan karena ku tak sanggup untuk menjalankan gerbong ini, bukan karena aku tidak kuat memikul dengan dua tanganku. Tetapi ... Karena memang harus aku tutup semua... Karena memang harus ku sumbat semua ... Agar kau bebas untuk pergi... Bebas untuk berekspresi... Meninggalkan ku disini.. ya munkin jalan lah yang akan menentukan arah kita, ya mungkin rel lah yang mengatur kita... ya mungkin deburan ombaklah yang akan membimbing kita... semua itu memang karena tidak sanggupnya aku untuk memberikan yang terbaik... Antara sebuah keadilan yang nisbi, dengan realita lapangan yang tak pasti adalah sebuah sisi yang sangat berbeda... Memang benar ternyata untuk membuat lingkaran menjadi bulat sempurna butuh waktu, bahkan pengorbanan yang tidak tau siapa yang akan berguguran dalam tujuan untuk mencapai kesempurnaan lingkaran... Cukup sudah semua ini kulalui... kembali pada sepi yang menggerogoti hari demi hari kadang aku masih ingin bermimpi.... kapan ini bisa berseri kembali... Tutup sudah agenda ini kubuat... Dengan tangat terangkat kuat.. Bahwa .... sudah lah kau tidak cukup mampu untuk membangun lingkaran ini waluyo.. Selesai sudah arsiran-arsiran yang sejak awal kau cita-citakan... Ternyata hanya pepesan kosong... Tanpa arti tanpa isi tanpa harga diri... Semua ini kapan berakhirnya.... Arsiran yang ku buat menjadi sirna... Pondasi yang keretas makin usai... Tanpa ada hasil yang memadai... cukuplah sudah kutulis ini, sebagai penawar hati yang tak sanggup menahan degup jantung ini.... bahwa ternyata hati nurani ini masih ada... Masih ada untuk membangun baradaban hakiki di negeri surgawi... Rabbi ampunilah dosa ku... Rabbi ampunilah dosa ku... Rabbi ampunilah dosa ku... Karena kelemahanku dalam membangun merajut, memoles, menyambungkan lingkaran-lingkaran yang ternyata berat untuk terwujud.. Rabbi, Engkau lebih tau tentang hal ini... Jangan engkau timpakan musibah jika aku tak sanggup untuk menerimanya... Rabbi Rabbi Rabbi Beban ini ukurannya ternyata hanya MATERI yang sesungguhnya tidak sesuai dengan hati ini ketika awal mulai bersatu... Ampunilah dosa ku Rabbi.

Senin, 02 Januari 2012

STC (Secarik Torehan Cinta)

Wahai istriku, ku teringat sebuah kewajiban yang harus ku tunaikan sebagai seorang suami, sebagai seorang nahkoda dalam kapal kita, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga kita, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah ayat dan hadist yang tak hanya sekali ku mendengarnya. Allah Ta’ala berfirman الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa :34) Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “ Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami pemimpin dirumahnya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, dan seorang istri pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya”. ( HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah Bin Umar Radiyalallahu ‘Anhu) Wahai istriku, ku akan berusaha menjadi suami yang baik, yang menyayangimu yang berusaha untuk berta’awun (saling tolong menolong) dalam kebaikan. Semoga aku bisa merealisasikan sebuah ayat yang tak jarang aku mendengarnya وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى ” Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan “ ( Qs. Maidah : 2 ) atau ku bisa manjadi seperti seorang hamba yang Allah rahmati, sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadist “ Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan istrinya untuk sholat dan bila tidak mau bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya dan semoga Allah merahmati seorang perempuan yang bangun malam lalu sholat dan membangunkan suaminya untuk sholat dan bila tidak mau bangun ia memercikinya dengan air diwajahnya” (HR. Ahmad, Ahlu sunan kecuali At Tirmidzi Hadist ini shahih) Wahai istriku, ku akan selalu berusaha membuat dirimu senang, sebagaimana ku senang jika diperlakukan seperti itu. Diantaranya ku akan berusaha selalu tampil rapih, wangi dihadapan dirimu. Sebagaimana ku senang jika ku diperlakukan seperti itu. وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالمَعْرُوفِ “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya” (QS.AL-Baqarah : 228 )
Wahai istriku, jika engkau melihat dari diriku rasa cemburu itu bukti rasa cintaku padamu. Yang dengan itu, aku berusaha menjaga dan mencintaimu, semoga dengan sebab kecemburuanku yang syar’i menjadi sebab terjaganya dirimu, ku ingin seperti Sa’ad bin Ubadah bahkan ku ingin seperti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Berkata Sa’ad bin Ubadah :“ Seandainya aku melihat seorang bersama istriku, niscaya aku akan menebasnya dengan pedang yang tajam”, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ Apakah kalian merasa heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu dari padanya, dan Allah lebih cemburu dari padaku” (HR. Bukhari dan Muslim) Wahai istriku, engkau dalam pandanganku seorang yang sangat berharga bagi diriku, sosok yang luar biasa, ketaatanmu yang membuat diriku tambah mencintai dirimu. Engkau diantara anugrah yang terbesar yang Allah berikan kepada diriku, sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “ Dunia adalah perhiasan, sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang shalihah ” (HR Muslim) Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda dalam hadist yang lain: “ Barang siapa yang dikaruniai oleh Allah seorang wanita yang shalihah, berarti dia telah menolongnya atas separuh agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada yang separuh yang kedua “(HR Al Hakim dan dia berkata sanadnya shahih dan disetujui oleh Adz Dzahabi) Wahai istriku, kebaikanmu begitu besar kepada diriku, kasih sayang dan kelembutanmu, kehangatan, ketaatan dan kesetiaanmu, pelayanan dan pengorbananmu begitu terasa oleh diriku, wahai istriku, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan masukkanmu kedalam surga Nya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ Bila seorang shalat lima waktu, puasa pada bulan ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suminya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia inginkan ” (HR.Ibnu Nuaim di hasankan oleh syaikh Al AlBani) Wahai istriku, ingatkanlah jika suamimu keliru, jika ada hakmu yang terlalaikan, wahai istriku jangan engkau ragu untuk menasehati jika suamimu keliru, jika suamimu salah, wahai istriku ku ingin rumah tangga kita dibangun diatas saling menasehati didalam ketaatan kepada Allah, karena atas dasar inilah agama kita dibangun. sebagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Agama itu adalah nasehat” (HR Muslim) Wahai istriku, ku ingin hubungan kita dibangun atas saling percaya dan saling berkhusnudzan (berberbaik sangka) satu dengan yang lainnya, karena dengan sebab inilah akan menutup celah hal-hal yang akan menimbulkan hubungan kita tidak harmonis. Wahai istriku, sebagai seorang suami ku ingin mengajarkan perkara agama kepada dirimu, tentang permasalahan tauhid, sholat, puasa dan permasalahan agama yang lainnya, atau mari kita bersama-sama pergi kemajelis ilmu yang membahas perkara agama dengan pemahaman yang benar, karena hal ini adalah diantara kewajibanku sebagai seorang suami, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang-orang yang beriman, pelihara dirimu dan keluargamu dari api neraka”(QS. At Tahrim:6) Wahai istriku, ku akan melangkahkan kaki ini, mengerahkan tenaga mencari rezeki yang halal yang Allah tetapkan untuk diriku, sebagai tanggung jawab seorang suami untuk menafkahi anak dan istrinya, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللهُ لا يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا “ Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya “ (QS. Ath-Thalaq : 7) Wahai istriku, ku akan selalu berusaha bergaul dengan pergaulan yang baik dengan dirimu, dengan kelembutan dan kasih sayang, dengan tutur kata yang sopan dan etika yang baik, dengan mendengar dan menghargai pendapatmu, dengan membantu dan meringankan pekerjaanmu, dengan bersikap yang baik dan menjaga perasaanmu, wahai istriku maafkan suamimu jika masih jauh dari hal itu, ku ingin berusaha berbuat yang terbaik untuki dirmu. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Kaum mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik ahklaqnya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada istrinya “ (HR. Bukhari dan Muslim) Wahai istriku, ku ingin engkau akrab dengan kedua orang tuaku. Ku ingin mereka menyayangimu seperti anaknya sendiri, wahai istriku mulailah dengan berlaku lemah lembut kepadanya, membantu pekerjaannya, niscaya engkau akan disayang seperti anaknya sendiri. Wahai istriku semoga Allah menjaga dan melanggengkan rumah tangga kita diatas ketaatan kepada Allah hingga akhir hayat kita, dan memasukan kita kedalam surganya “Dan di antara kebahagiaan (seorang laki2) adalah wanita shalihah, jk engkau memandangnya maka engkau kagum dengannya, dan jika engkau pergi daripadanya, engkau merasa aman dengan dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu, dan jika engkau pergi daripadanya engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu” Hadits riwayat Ibnu Hibban dan lainnya, dalam As-Silsilah Ash- Shahihah, hadits no. 282. Batam, 02012012

Jumat, 30 September 2011

Lingkaran

Memperhatikan sebuah kaitan indah berpadu menjadi satu dengan bersambungnya sebuah garis tanpa ada ujung membentuk bulatan yang kita kenal dengan lingkaran. Ketika kita mulai menapaki hidup ini sebetulnya adalah sedang menyambung nyambung sebuah potongan-potongan untuk membentuk sebuah lingkaran kehidupan seorang manusia, walau kadang ada juga prosesi untuk membentuk lingkaran yang sempurna itu banyak terjadi berbagai cobaan. Kadang kita berfikir bahwa sudah cukuplah kita membentangkan garis untuk membentuk lingkaran bulat, sejatinya adalah bahwa ternyata kita hanya membuat setitik noktah kehidupan yang bisa dikatakan baru titik kehidupan di dalam sebuah linkaran hingar bingar bunderan besar kehidupan. Lingkaran ini bukan dalam arti yang sesungguhnya, akan tetapi sebuah gambaran tentang mengelola kehidupan dalam tataran lingkungan keluarga dimana kita berada sekarang, bahkan ternyata ketika kita belum berkeluargapun garis-garis tipis lingkaran telah dibuat atau bahkan sudah terberntuk tapi belum sempurna ujud lingkaran tersebut oleh Bapak kita atau oleh mbah-mbah kita terdahulu.
(FOTO INI ADALAH LINGKARAN AWAL) Bahwa kemudian ternyata bentukan lingkaran ini memakan waktu cukup lama dan entah kapan mencapai sempurna, bahkan mungkin sampai kita meninggalkan dunia lingkaran tersebut belum terbentuk juga, yang terpenting bukan kapan lingkaran itu jadi, tapi bagaimana usaha kita agar jalan untuk membentuk lingkaran atau cara untuk membuat lingkaran menjadi sempurna telah kita wujudkan, walau dengan sisa umur yang ada. Aisah,RA cemburu luar biasa kepada baginda Rasulullah SAW, kenapa? karena setiap ada sedikit kelebihan makanan selalu Rasul menyuruh Aisah RA untuk membagikan kepada teman-teman Almarhum Khadijah RA., ternyata inilah sebetulnya Tauladan yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa membentuk lingkaran komunitas keluarga (yang jelas keluarga bani Hasyim telah sempurna) tidak akan putus walau salah seorang dari unsur penyambung lingkaran itu telah tiada. Contoh yang Excelence... Maka dalam riwayat Hadish disebutkan bahwa : "jalinlah silaturahmi (lingkaran) kekeluargaan kepada teman-teman Orang tua kita" tujuannya adalah agar kita bisa mengingatkan akan kebaikan teman2 orang tua kita kepada keluarga kita... wow sebuah lingkaran baru harus dibentuk. Nah, biarlah mungkin orang tua kita buta huruf, biarlah mungkin orang tua kita tidak taat ibadah, biarlah mungkin orang tua kita kejawen, biarlah mungkin orang tua kita dulu pernah berbuat musrik, biarlah mungkin orang tua kita atau bapak kita maaf pernah makan daging anjing dll, tapi yakinlah bahwa itu dalam bingkai bisa dimaafkan, jika memang beliau2 ini belum faham hukum fiqih. Indah bukan, Artinya lingkaran harus tetap jalan walau ada setitik noktah hitam pekat, memang akan berhenti sejenak (ada judul tulisan saya tentang berhenti sejenak) tapi tidak untuk selamanya, alur lingkaran harus tetap dibentuk, walau umur sudah semakin udzur... Bahkan semakin udzur umur justru semakin dewasa dalam membuat jaringan lingkaran, guna mewujudkan tingkat nilai tertinggi dalam bingkai hadist Rasullah Muhammada SAW tersebut di atas. Maka, dalam koridor ini tidak berlebihan jika saya harus mengucapkan/meminta dengan segala kerendahan hati saya sebagai anak, saya sebagai bapak, saya sebagai cucu, saya sebagai kakak, saya sebagai menantu, saya sebagai kepala keluarga memohon maaf sebesar-besarnya ternyata saya tidak cukup mampu untuk menyambung lingkaran-lingkaran kekeluargaan ini, entah kapan selesainya..... tapi saya tetap yakin alur lingkaran ini sudah saya buat walau baru arsiran-arsiran tipis bening sebening embun suci bersih. Maafkan saya Ibu (Ibu Cilacap dan Ibu Kebumen). Wallahu 'Alam. SEMANGAT DI HARI IBU. BATAM 26 DES 2011 MENJELANG MAGHRIB.

Selasa, 13 September 2011

Puisi Taufik Ismail

Kerendahan Hati Oleh: Taufik Ismail Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, Jadi saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya Jadilah saja jalan kecil, Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air Tidaklah semua menjadi kapten tentu ada awak kapalnya.... Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu Jadilah saja dirimu.... Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Palestina, Bagaimana Bisa Aku melupakanmu (karya Taufik Ismail) Ketika rumahmu diruntuhkan buldozer dengan suara-suara gemuruh menderu, serasa pasir dan batu bata di dinding kamar tidurku bertebaran di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan mengepulkan debu yang berdarah Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan apelmu dilipat-lipat sebesar sapu tangan lalu Tel Aviv dimasukkan dalam fail lemari kantor agraria, serasa pohon kelapa dan kebun manggaku di kawasan katulistiwa yang dirampas mereka Ketika kiblat pertama gerek dan kerecaki bagai kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-sepatu serdadu menginjak tumpuan kening kita semua, serasa runtuh lantai papan surau tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al Qur’an 40 tahun silam di bawahnya ada kolam ikan yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini ditetesi air mataku Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu, Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma, lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya, siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami Indonesia jua yang didzalimi mereka– tapi saksikan tulang mida mereka yang patah akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya, pembelit leher mereka, penyeret tubuh si zalim ke neraka Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan Samir Al-Qassem, Harun Hashim, Jabra Ibrahim Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang dibacakan di Pusat Kesenian Jakarta, Jantung kami semua berdegup dua kali lebih gencar Lalu tersayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami pun memancar ke atas lalu menuliskan guratan kaligrafi… ”Allahu Akbar!” Dan “Bebaskan Palestina!” Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu, Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepakan memproduksi dusta menebarkannya ke media cetak dan elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi ke padangpasir belantara, membangkangi resolusi-reolusi majelis-majelis terhormat di dunia membantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yaseer Arafat dan semua pejuang negeri Anda, Aku pun berseru kepada khatib Dan imam shalat Jum’at sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh dan setiap pejuang yang menapak di jalan-Nya yang ditembaki dan kini dalam penjara lalu dengan kukuh kita bacalah “Laa quuwwata illa bi-llah!” Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu Tanahku jauh, bila diukur kilometer, jumlahnya beribu-ribu, Tapi adzan masjid Aqsha yang merdu Serasa terdengar di telingaku 1989

Rabu, 07 September 2011

PUISI PUISI CHARIL ANWAR


DOA (13 November 1943)

kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

AKU BERADA KEMBALI (1949)

Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;
rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.
Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.
Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh


AKU (Maret 1943)

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

CINTAKU JAUH DI PULAU (1946)

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.
Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"
Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!
Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

KARAWANG BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

Jumat, 12 Agustus 2011

Tikus Pithi anata Baris


Jongko Joyo Boyo
dutulis oleh: Ronggowarsito (Nostradamus versi Jawa)

Iki sing dadi tandane zaman kolobendu
Ini yang menjadi tanda zaman kehancuran

1. Lindu ping pitu sedino
1. Gempa bumi 7 x sehari
2. Lemah bengkah
2. Tanah pecah merekah
3. Manungsa pating galuruh, akeh kang nandang lara
3. Manusia berguguran, banyak yang ditimpa sakit
4. Pagebluk rupo-rupo
4. Bencana bermacam-macam
5. Mung setitik sing mari akeh-akehe pada mati
5. Hanya sedikit yang sembuh kebanyakan meninggal

Zaman kalabendu iku wiwit yen
Zaman ini ditandai dengan

1. Wis ana kreto mlaku tampo jaran
1. Sudah ada kereta yang berjalan tanpa kuda
2. Tanah jawa kalungan wesi
2. Tanah Jawa dikelilingi besi (mungkin maksudnya Rel kereta kali ya)
3. Prau mlaku ing nduwur awang-awang
3. Perahu berjalan di atas awan melayang layang
4. Kali ilang kedunge
4. Sungai kehilangan danaunya
5. Pasar ilang kumandange
5. Pasar kehilangan keramaianya
6. Wong nemoni wolak-walik ing zaman
6. Manusia menemukan jaman yang terbolak-balik
7. Jaran doyan sambel
7. Kuda doyan makan sambal
8. Wong wadon menganggo lanang
8. Orang perempuan mempergunakan busana laki-laki

Zaman kalabendu iku koyo-koyo zaman kasukan, zaman kanikmatan donya, nanging zaman iku sabenere zaman ajur lan bubrahing donya
Zaman kalabendu itu seperti jaman yang menyenangkan, jaman kenikmatan dunia, tetapi jaman itu sebenarnya jaman kehancuran dan berantakannya dunia

1. Mulane akeh bapak lali anak
1. Oleh sebab itu banyak bapak lupa sama anaknya
2. Akeh anak wani ngalawan ibu lan nantang bapak
2. Banyak anak yang berani melawan ibu dan menantang bapaknya
3. Sedulur pada cidro cinidro
3. Sesama saudara saling berkelahi
4. Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane
4. Perempuan kehilangan rasa malunya, Laki-laki kehilangan rasa kejantanannya
5. Akeh wong lanang ora duwe bojo
5. Banyak Laki laki tidak punya istri
6. Akeh wong wadon ora setia karo bojone
6. Banyak perempuan yang tidak setia pada suaminya
7. Akeh ibu pada ngedol anake
7. Banyak ibu yang menjual anaknya
8. Akeh wong wadon ngedol awakke
8. Banyak perempuan yang menjual dirinya
9. Akeh wong ijol bojo
9. Banyak orang yang tukar menukar pasangan
10. Akeh udan salah mongso
10. Sering terjadi hujan salah musim
11. Akeh prawan tuwo
11. Banyak Perawan Tua
12. Akeh rondo ngalairake anak
12. Banyak janda yang melahirkan anak
13. Akeh jabang bayi nggoleki bapake
13. Banyak bayi yang lahir tanpa bapak
14. Wong wodan ngalamar wong lanang
14. Perempuan melamar laki-laki
15. Wong lanang ngasorake, drajate dewe
15. Laki-laki merendahkan derajatnya sendiri
16. Akeh bocah kowar
16. Banyak anak lahir di luar nikah
17. Rondo murah regane
17. Janda murah harganya
18. Rondo ajine mung sak sen loro
18. Janda nilainya hanya satu sen untuk dua
19. Prawan rong sen loro
19. Perawan nilainya dua sen untuk dua
20. Dudo pincang payu sangang wong
20. Duda berharga 9 orang

Zamane zaman edan
Zamannya Zaman Gila/Sinting

1. Wong wadon nunggang jaran
1. Perempuan menunggang Kuda
2. Wong lanang lungguh plengki
2. Laki-laki berpangku tangan
3. Wong bener tenger-tenger
3. Orang yang benar cuma bisa bengong
4. Wong salah bungah-bungah
4. Orang yang melakukan kesalahan berpesta pora
5. Wong apik ditapik-tampik
5. Orang Baik di singkirkan
6. Wong bejat munggah pangkat
6. Orang Yang kelakuannya bejat malah naik pangkat
7. Akeh ndandhang diunekake kuntul
7. Banyak komentar yang tidak ada isinya
8. Wong salah dianggap bener
8. Orang salah diangap benar
9. Wong lugu kebelenggu
9. Orang lugu dibelenggu
10. Wong mulyo dikunjara
10. Orang mulia dipenjara
11. Sing culika mulya, sing jujur kojur
11. Yang salah mulia, yang jujur hancur
12. Para laku dagang akeh sing keplanggrang
12. Pedagang banyak yang menyeleweng
13. Wong main akeh sing ndadi
13. Orang berjudi semakin menjadi
14. Linak lijo linggo lica, lali anak lali bojo, lali tangga lali konco
14. Lupa anak dan pasangan, lupa tetangga dan teman
15. Duwit lan kringet mug dadi wolak-walik kertu
15. Uang dan keringat hanya untuk berjudi
16. Kertu gede dibukake, ngguyu pating cekakak
16. Kartu besar dibuka, tertawa terbahak-bahak
17. Ning mulih main kantonge kempes
17. Tapi waktu pulang main kantongnya kosong
18. Krugu bojo lan anak nangis ora di rewes
18. Denger anak istri nangis tidak digubris

Abote koyo ngopo sa bisa-bisane aja nganti wong kelut,keliring zaman kalabendu iku.
Seberat apapun jangan sampai ikut larut dalam warna-warni zaman kalabendu.

Amargo zaman iku bakal sirno lan gantine joiku zaman ratu adil, zaman kamulyan. Mula sing tatag, sing tabah, sing kukuh, jo kepranan ombyak ing zaman Entenana zamanne kamulyan zamaning ratu adil.
Sebab jaman itu bakal sirna dan diganti dengan jaman Ratu adil, jaman kemuliaan, karena itu yang tegar, yang tabah, yang kokoh, Jangan melakukan hal bodoh. Tunggulah jaman kemuliaan jamannya Ratu adil. Wallahu A'lam.

Selamat, Shaum hari ke 12, 12 Ramadhan 1432 H, 12 Agustus 2011
Menandai, ke 1000 blog saya di kunjungi pembaca.

Senin, 08 Agustus 2011

PINTU


Ketika kita melihat atau mendengar ucapan "PINTU" terbayang oleh kita bahwa yang tergambarkan oleh otak ini adalah sebuah persegi empat, berdiri lebar 1,5 meter berada di tengah sebuah bangunan.

Atau yang terfikirkan adalah tempat untuk keluar dan masuk dari dan ke suatu tempat, untuk menuju tempat lain.

Atau yang nyaris setiap orang pasti sama imanjinasinya adalah tempat masuk di sebuah rumah/tempat tinggal.

Ternyata persepsi kita tentang "PINTU" ini hanya sebatas tempat masuk ke sebuah rumah di dunia saja, ini menunjukan bahwa daya ingat kita sebagai manusia cukup lemah dalam hal memahami PINTU dalam pegertian harfiah semata, tapi kalau kita bisa memaknainya secara luas bahwa segala sesuatu tidak akan lancar jika tidak melalui sebuah PINTU, semua urusan tidak akan selesai jika tidak melewati sebuah pintu, atau bolehlah kita mengatakan bahwa PINTU adalah kunci menuju "sukses"...

Coba kita bayangkan jika rumah kita tidak berpintu, maka kita tidak akan sukses memasuki rumah..
Coba bayangkan jika WC kita tidak berpintu, maka yakinlah bahwa kita tidak akan sukses buang hajat...
Coba bayangkan jika kantor kita tak berpintu, pasti kerjaan tidak akan sukses...
Nah, lucunya lagi sudah dipasang pintu, dirusak pula (Seperti KRL JABODETABEK)...
apa enaknya naik KRL tanpa pintu... dingin masuk angin, dll.

Tapi bagi orang-orang yang naik KRL di atap dia pasti akan berdalih nih gue SUKSES naik di atap, elu bisa kagak... SUKSES kagak bayar tiket... elu bisa gak...

Itulah sebuah gambaran tentang betapa pentingnya sebuah PINTU, sehingga orang akan memaksakan diri untuk memoles PINTU rumahnya ketika lebaran tlah tiba...
Atau ada orang yang memaksakan diri setelah dihitung-hitung tidak sesuai dengan fengsui, kita puter pintunya jadi menghadap ke atas.... walah yo nganeh-nganehi...

Wong jelas-jelas aturannya sudah begitu, tidak usah dibuat-buat untuk bisa berkelit menghilangkan jejak agar tidak bisa ditangkap, paspor negara lain lah... kira-kira nganeh nganehi gak.

Nah, coba bagi kita yang sudah berkeliling Indonesia, pasti akan menemukan hal-hal aneh(maksud saya ada yang beda) ketika kita melihat pintu-pintu rumah adat suku-suku di Indonesia.

Pintu Tongkonan (Rumah adat Tanatoraja), Pintu Rumah JOglo (rumah adat Jawa), Pintu Rumah Bugis, Pintu Rumah Adat Sunda, Pintu Rumah Tionghoa(yang pasti ada unsur warna merah), beda-beda kan...

Tapi, hakekatnya adalah sama, yaitu tempat masuk kesebuah ruangan lain...
Pasti ada puluhan atau bahkan ratusan model-model pintu di seluruh rumah-rumah adat di seluruh Indonesia, inilah khasanah Yang bolehlah saya menafsirkan "berbeda-beda BENTUK, tapi tetap satu TEMPAT MASUK"..
Jadi kesimpulannya Pintu adalah tempat Masuk.

Ternya Pintu, juga ada di alam akherat kelak, bahwa kita manusia akan masuk ke Syurga melaluie pintu mana?
Mari kita tengok:

Dari Abi Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda:
"Barang siapa memberi nafkah isterinya di jalan Allah, maka akan dipanggil dari pintu surga, 'Wahai Hamba Allah! Ini adalah pintu kebaikan.'
Barangsiapa termasuk ahli salat, maka akan dipanggil dari pintu al-Shalah. Barangsiapa termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu al-Jihad. Barangsiapa termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu al-Rayyan.
Dan barangsiapa termasuk ahli sedekah, maka akan dipanggil dari pintu al-Shadaqah. Abu Bakar lantas berkata, 'Demi engkau dan ibuku (ummul mukminin), ya, Rasulullah! Apakah seseorang harus dipanggil dari pintu-pintu itu, dan adakah seseorang yang dipanggil dari pintu-pintu itu seluruhnya?' Rasulullah menjawab, 'Iya. Dan aku berharap semoga engkau termasuk dari mereka." (HR. al-Bukhari).

Maka apa yang telah digambarkan dalam AL-Qur'an dalam Surat AN-Nuur ayat 34, begitu jelas bahwa laki-laki dan perempuan-perempuan shalehah yang menjalankan perintah ALlah SWT maka akan dipanggil melalui pintu Kebaikan.

Begitu juga dengan Laki-laki dan perempuan-perempuan yang Puasa juga akan dipanggil lewat pintu Ar Rayan.
Rasulullah Saw. bersabda:
"Sesungguhnya di dalam surga terdapat satu pintu yang dinamakan pintu 'al-Rayan' yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.
Ditanyakan (oleh pintu tersebut):
'Di manakah orang-orang yang berpuasa?' Maka mereka pun masuk dari pintu tersebut.
Setelah semua orang yang berpuasa memasukinya, pintu itu pun ditutup dan tak akan ada lagi yang masuk melaluinya." (HR. Muslim, dari Sahl Ibn Sa'd).

Delapan hari tlah berlalu kita berpuasa di Ramadhan 1432H,
wahai anak-anakku, mudah2an engkau dipanggil lewat salah satu dari delapan pintu-pintu syurga kelak, jadikanlah Ramadhan ini seperti Ramadhan-Ramadhan di tahun 1425 H ketika kita di Rantau Orang, Bumi Sawerigading, Amin.
Kenangan bersama kucing kesayangan kita BAWEL namanya(dia hilang entah kemana ketika kita pindah kontrakan dari BTN Merdeka BLok K No.7 Beriningin Jaya ke Jalan Merdeka,Palopo ketika itu Bawel dibawa, dan kemudian karena suasana baru dia lari, setelah itu entah kemana... Selamat tinggal Bawel),
Teringat keceriaan kita selepas menjalankan Puasa penuh di Ramadhan 1425 H, walau usiamu waktu itu, masih SD dan TK, bahkan Teteh dan Bia masih belum sekolah, baru TK.
Amin.

Ya, Rabbi lakal hamdu kama yambaghijalaali wajhika wa'azhiimi sulthonik.
Amin Ya Rabbal Alamin.
BATAM, 8 Ramadhan 1432 H.
8 Agustus 2011